Beberapa hari lalu, berita tentang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menyapa layar ponsel saya. Hampir setiap tahun kita melihat cerita yang sama: hutan terbakar, asap menyelimuti kota-kota, kualitas udara memburuk, protes dari negara tetangga, dan respons pemerintah yang aduhai tidak bisa saya ungkapkan di sini.
Kebakaran yang lagi dan lagi terjadi
Di Kalimantan Barat saja, hingga 1 September 2026, luas lahan yang terbakar dilaporkan telah mencapai sekitar 38.310 hektare1. Kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama Kubu Raya dan Ketapang.
Yang membuat saya tidak habis pikir adalah bagaimana persoalan ini seperti tidak pernah benar-benar selesai. Kita tahu kemarau akan datang. Dari pengalaman, kita tahu lahan gambut yang dikeringkan sangat rentan terbakar. Kita tahu titik-titik rawan kebakaran dari tahun ke tahun. Kita punya citra satelit, punya data, punya petugas, punya aturan, dan bahkan punya pengalaman menghadapi masalah yang sama selama bertahun-tahun selalu terulang. Teman kuliah magister saya saja pernah membuat paper tentang citra satelit kelapa sawit. Tetapi setiap kali kebakaran terjadi, kita tetap kembali ke mode yang sama: memadamkan api setelah api itu membesar.
Saya tidak mengatakan pemerintah tidak melakukan apa-apa. Mereka jelas melakukan berbagai tindakan. Presiden bahkan turun langsung ke Pontianak untuk melihat kondisi di lapangan, atau melihat kebunnya? entahlah saya juga tidak tahu, lalu melanjutkan rapat penanganan karhutla pada Senin, 24 Agustus 2026 di Palembang dan Pekanbaru, yang membuahkan sejumlah arahan dan inovasi yang mantap sekali: Inpres-inpres langsung dikeluarkan, sumur bor2, ubi bombing3, motor trail4, dan kasih jabatan5 sebagai apresiasi pun dilakukan.
Saya merasa ada sesuatu yang aneh ketika solusinya alih-alih membeli pesawat pemadam, justru mengerahkan penerjun payung ke posisi yang sulit dijangkau, melakukan seremoni pelepasan petugas pemadam6, lalu gagasan tentang melibatkan influencer untuk mempromosikan konten edukasi stop pembakaran lahan7.
Orangutan di Kebun Sawit
Seekor orangutan ditemukan dalam kondisi sangat lemah di sebuah kebun sawit di Ketapang. Orangutan tersebut kemudian diberi nama Sampurna. Ia diduga terdampak asap karhutla hingga mengalami gangguan pernapasan dan harus mendapatkan pertolongan dari tim penyelamat. Dalam beberapa minggu terakhir, beberapa orangutan lain juga telah dievakuasi setelah keluar dari habitatnya di tengah situasi kebakaran.
Ketika melihat berita itu, saya langsung berpikir: kenapa orangutan sampai harus berada di kebun sawit?
Tentu saja jawabannya tidak sesederhana itu. Orangutan bisa keluar dari habitat karena berbagai alasan, termasuk mencari makanan ketika sumber pakan berkurang atau habitatnya terganggu. Saya juga tidak ingin menyimpulkan bahwa setiap kebun sawit yang didatangi orangutan pasti merupakan hasil dari pembukaan hutan secara ilegal — mana mungkin izin perkebunan sawit bisa keluar begitu saja tanpa hitam di atas putih, ya kan.
Tetapi tetap saja, melihat seekor orangutan tergeletak lemah di perkebunan sawit ketika hutan di sekitarnya terbakar terasa sangat ironis.
Yang semakin membuat saya kesal adalah melihat bagaimana sebagian lahan yang terbakar kemudian dapat kembali dimanfaatkan untuk perkebunan8. Saya tidak mengetahui sejarah setiap bidang lahan yang muncul dalam pemberitaan, tapi menurut saya alur yang kebetulan ini terlalu kebetulan untuk mencoba berpositif thinking.
Tapi sudah dibantah oleh pihak terkait, katanya lahan yang terbakar itu memang bukan merupakan hutan lindung. Tapi menurut saya, ini bukan saat yang tepat untuk menanami lahan yang baru saja terbakar dengan sawit, karena pastinya akan menimbulkan persepsi publik yang tidak baik.
Bagaimana kalau dugaan saya benar?
Kebakaran yang seharusnya menjadi bencana justru pada akhirnya menjadi jalan instan untuk mengubah fungsi sebuah lahan. Saya rasa itulah "keanehan" yang membuat saya terus memikirkan berita ini. Ketika pohon-pohon sudah hilang, satwa sudah pergi, dan tanah sudah terbakar, siapa yang memastikan bahwa lahan tersebut benar-benar dipulihkan? Dan kalau yang tumbuh setelahnya justru bukan kembali menjadi hutan, tetapi menjadi perkebunan, lalu sebenarnya apa yang kita selamatkan?
Mengadopsi Monyo
Pada akhirnya, saya sadar bahwa saya tidak bisa memadamkan kebakaran tersebut, tidak bisa menentukan kebijakan pemerintah, dan tidak punya kemampuan untuk pergi ke Kalimantan dan menyelamatkan orangutan yang terdampak. Yang bisa saya lakukan hanya sesuatu yang jauh lebih kecil.
Pacar saya memelopori untuk selalu berdonasi. Kami menemukan BOS Foundation (Borneo Orangutan Survival Foundation), sebuah organisasi yang memang bergerak di bidang konservasi orangutan.
Tentang BOS Foundation
BOS Foundation berdiri sejak 1991 dan menjalankan salah satu program konservasi kera terbesar di dunia di Pulau Kalimantan9. Ada empat fokus kerja mereka:
- Reintroduksi orangutan kembali ke alam liar (lebih dari 561 individu telah dilepasliarkan)
- Konservasi ekosistem sekaligus pencegahan karhutla
- Perawatan dan rehabilitasi di pusat penyelamatan seperti Nyaru Menteng dan Samboja Lestari
- Pengembangan komunitas dan edukasi di sekitar habitat orangutan
Saya baru mengetahui bahwa BOS Foundation memiliki program symbolic adoption untuk orangutan-orangutan yang sedang menjalani "jungle school", semacam pelatihan sebelum mereka siap dilepasliarkan. Adopsi ini tentu bukan berarti membawa orangutan pulang ke rumah kita, melainkan digunakan untuk membantu proses penyelamatan, perawatan, rehabilitasi, hingga persiapan orangutan agar suatu hari dapat kembali hidup di alam. Sebagai gantinya, pengadopsi mendapatkan update berkala soal perkembangan orangutan yang mereka adopsi.
Saya kemudian memilih Monyo.
Monyo diselamatkan ketika masih sangat kecil dan sekarang menjalani proses rehabilitasi di Nyaru Menteng. Dikatakan bahwa, ia masih belajar berbagai kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat hidup mandiri di alam10. Dan ternyata, memilih Monyo membuat saya teringat sebuah core memory yang sudah sangat lama saya simpan.
Kenangan di Bali Zoo
Waktu masih SD, saya pernah ikut tamasya bersama rombongan sekolah SMP bapak saya ke Bali Zoo. Saya masih ingat betapa senangnya waktu itu karena pertama kalinya ke kebun binatang, dan bisa melihat satwa-satwa yang asing bagi saya secara langsung. Di Bali Zoo, ada seekor orangutan yang sedang duduk santai, sementara orang-orang memperhatikannya dari balik pembatas.
Kami waktu itu dianjurkan untuk tidak memberikan makanan kepada orangutan tersebut. Alasannya cukup lucu: kalau diberi makanan, dia bisa saja melemparkannya kembali kepada kita.
Sebagai anak SD, tentu saja yang saya pikirkan cuma satu: lucu juga orangutan ini. Saya tidak pernah berpikir lebih jauh dari mana dia berasal, seperti apa habitat mereka, atau apa yang terjadi dengan tempat tinggal mereka seperti yang terjadi saat ini. Saya hanya seorang anak kecil yang sedang senang melihat seekor orangutan duduk santai.
Bertahun-tahun kemudian, saya kembali memikirkan orangutan karena sebuah berita tentang kebakaran hutan. Bedanya, sekarang saya sudah sedikit lebih dewasa dan mulai memahami bahwa di balik penampilannya di kebun binatang, ada cerita yang jauh lebih besar.
Dulu saya hanya melihat orangutan sebagai sesuatu yang menarik untuk dilihat di kebun binatang. Sekarang saya melihatnya sebagai sesuatu yang perlu kita perjuangkan agar tetap bisa hidup di tempat yang memang seharusnya menjadi rumah mereka.
Harapan
Saya sadar bahwa apa yang saya lakukan sangat kecil. Satu donasi tidak akan menghentikan kebakaran hutan. Satu adopsi tidak akan mengembalikan ribuan hektare hutan yang sudah hilang. Bahkan tulisan ini mungkin hanya akan dibaca oleh beberapa orang.
Tapi mungkin memang tidak semua hal harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Saya berharap pemerintah benar-benar bisa bergerak lebih masuk di akal. Kebijakan-kebijakan yang dibuat harus benar-benar efisien dan efektif, bukan sekadar menelan informasi mentah dari masukan orang lain tanpa dikaji lebih dalam. Yah, mungkin inilah interpretasi dari "OK GAS", minta 50 motor trail "OK GAS, kasi 100".
Karena bagi kita, hutan mungkin terlihat seperti sekumpulan pohon. Bagi mereka (bos sawit), hutan adalah lahan tanam. Bagi mereka (satwa), hutan adalah rumah.
Dan kalau suatu hari nanti Monyo benar-benar berhasil kembali ke alam, mungkin itu akan menjadi bagian paling menyenangkan dari cerita ini. Bukan karena saya pernah mengadopsinya, tetapi karena pada akhirnya saya tidak lagi perlu mengadopsinya.
Reference
-
Karhutla Kalimantan Barat Belum Padam, Total 38.310 Hektar Lahan Terbakar. Kompas.com, 1 September 2026.
-
TNI Mulai Bangun Sumur Bor di Wilayah Rawan Karhutla Riau. Metrotvnews.com.
-
Prabowo Eyes 'Ubi Bombing' to Fight Wildfires: What Is It?. Tempo.co.
-
Prabowo Kirim 100 Motor Trail untuk Atasi Karhutla Sumsel, Ini Spesifikasinya. Wartaekonomi.co.id.
-
Prabowo Minta Pangdam dan Kapolda Riau Naik Jabatan Jika Karhutla Tuntas. Bisnis.com.
-
Seremoni pelepasan petugas pemadam karhutla. Instagram.
-
Cegah Karhutla Lewat Influencer, Efektif atau Cuma Gimmick?. Tirto.id.
-
Api Padam, Sawit Ditanam: Mengapa Lahan Bekas Kebakaran Ini Begitu Cepat Berubah Jadi Kebun. Selingkar Wilis.
-
Monyo. BOS Foundation.







